PERCAYALAH, Allah itu Dekat, Tanpa JarakSemalam, saya baru saja mengisi kajian tafsir surat Al Baqarah yang baru sepekan ini dihafal oleh para santri penghafal Al Qur’an di bumi Allah, di sini, di atas bukit yang indah.
Tibalah pada ayat 186 surat Al Baqarah:

(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ)

“Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku sangat dekat, Aku mengabulkan permohonan hambaKu apabila berdoa (kepadaKu), maka lakukanlah kewajiban kepadaKu, dan berimanlah kepadaKu agar mereka berada di jalan yang lurus.”

Saya jelaskan tentang dekatnya Allah kepada kita, bagaimana Allah mengabulkan doa-doa kita. Saya ajak para santri merenung dan mengingat kembali, pernahkah di dalam hidupnya merasakan kedekatan Allah sedemikian dekat, pernahkah doa-doa mereka dikabulkan Allah dan bagaimana perasaan ketika berdoa dan ketika doa-doa mereka dikabulkan Allah.

Beberapa santri mengacungkan tangan untuk memberi testimoni, menyampaikan pengalaman pribadi mereka.

Seorang santri, Diva namanya, juga memberanikan diri bercerita. Ceritanya kemudian menjadi perhatian kami semua, karena begitu terharunya ia sampai-sampai semua yang mendengarkan ikut larut dengan mata berkaca-kaca.

Suatu hari Diva bermain dengan adiknya, Farhan (keduanya adalah santri kami). Entah permainan apa yang mereka mainkan sehingga keduanya naik ke atas genteng rumah.
Tanpa bisa ia cegah, tiba-tiba saja Farhan terjatuh dari atas genteng. Hidungnya berlumuran darah, dan tangannya patah.

Sampai di sini ceritanya tersendat. Air matanya mulai mengalir, membuat kami yang mendengarkan ceritanya ikut berkaca-kaca. Sejenak kemudian Diva pun melanjutkan ceritanya.

Kata si kakak, ternyata si adik pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit…..

Sampai di sini cerita benar-benar terhenti, dan semua pendengar ikut menangis.

Tak lama kemudian Diva berhasil mengendalikan dirinya. Masih dengan terisak-isak, ia melanjutkan ceritanya.

Farhan langsung dibawa ke rumah sakit. Ada perasaan bersalah dalam diri si kakak ketika ia tidak bisa menjaga adiknya saat bermain. Ia merasa bersalah karena telah naik ke atas genteng. Dan melihat kondisi sang adik yang tidak sadarkan diri, membuat ia tidak berdaya….

Hingga sesuatu mengingatkannya….
Ia ingat masih ada Allah tempat mengadukan semua kesulitan, tempat meminta, dan yang paling penting adalah, Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hambaNya.

Dengan keyakinan itu seketika ia berdoa dengan khusyu’, memohon kepada Allah dengan penuh takut dan harap untuk kesembuhan sang adik.

Qadarullah, sang adik siuman, dan menurut dokter yang menanganinya tangan yang patah pun bisa disembuhkan.
Alhamdulillah.

Rupanya, materi yang saya sampaikan membuat Diva terkenang dengan peristiwa beberapa tahun silam yang dialaminya. Diva benar-benar merasakan kekuasaan Allah yang begitu dahsyat dalam hidupnya, sehingga ia mentadabburi ayat di atas.

Benar-benar Allah hadir dalam kehidupannya, begitu dekat, bahkan tak berjarak.

Pantas saja kami sebagai pengajar melihat bukti kedekatan Diva dengan Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Ia begitu santun, baik kepada yang tua maupun kepada yang muda, ibadahnya tekun, dan benar-benar menjaga hafalannya.

Subhanallah… semoga cita-citamu tercapai, Nak, menjadi ‘ulama dan Hafizh Qur’an.

Allahummarhamna bil quran….

Silahkan share....